Arena bermain anak yang bikin kantong mengembang

Diposting pada

Jual Playground – Mal telah menjadi target rekreasi keluarga, terutama yang tinggal di perkotaan. Pengelola mal berlomba melengkapi sarana penarik pengunjung, juga arena bermain anak. Potensi keuntungan bisnis hiburan anak ini pun turut meruak.

Bukan sekadar tempat belanja dan cuci mata, pusat perbelanjaan juga menjadi target favorit keluarga untuk mengajak rekreasi sang buah hati. Maklum, banyak mal kini sedia kan arena bermain yang asyik bagi anak.

Menilik jumlah pengunjung arena bermain anak yang lumayan banyak, sepertinya bisnis arena bermain anak (playland) lumayan menjanjikan. Wajar seandainya bisnis playland ini pun kian merebak. Sarana permainan yang mereka sedia kan semakin variatif dan memasukkan unsur edukasi dan olahraga.

Selain kolam bola, bounce atau balon berukuran besar, kini ada pula trampolin, panjat tebing, hingga flying fox. “Tren arena bermain selagi ini harus berikan permainan yang mendidik,” ujar Tonie Kadi, Direktur PT Lollipop Indonesia, pengelola Lollipop’s Playland & Cafe di Indonesia.

Soal potensi pasar, tak usah diragukan lagi. Walau tiket masuk arena bermain tak murah, orangtua tak segan merogoh kocek demi menggembirakan anak. Pengunjung arena bermain tetap melimpah, terutama kala libur akhir pekan.

Harga tiket biasanya dihitung per jam sekitar Rp 10.000–Rp 15.000 per jam. Anak sanggup main sepuasnya dengan belanja tiket seharga Rp 85.000–Rp 110.000 per orang. Pengunjung playland berukuran kecil per hari sanggup capai 100 anak per hari. Arena bermain yang lebih besar dan permainan bervariasi tentu sanggup menyedot pengunjung lebih banyak lagi.

Kelebihan lain bisnis playland adalah ongkos pemeliharaan yang rendah. Menurut Jhonny Asiong, pemilik arena bermain anak Happy Play, pengelola lumayan membersihkan peralatan dengan vacuum cleaner. Mainan juga tak butuh perbaikan, paling tidak sepanjang dua tahun–tiga tahun. Penggunaan listrik dan air pun minim. Soalnya sebagian besar mainan anak tidak perlu air atau listrik.

Rai Minakarna, pebisnis playland mandiri, memberikan bahwa dana operasional paling banyak tersedot untuk sewa tempat dan gaji karyawan. “Arena bermain biasanya butuh lima-enam karyawan,” ujar dia.

Kalau berminat menjajal bisnis ini, ada sebagian tawaran waralaba yang sanggup Anda pertimbangkan. Itu jikalau Anda ogah sibuk mengakses bisnis ini secara mandiri.

Yuk, kami tengok penawaran mereka. Siapa paham ada yang memikat:

Happy Play

Happy Play berbasis di Medan, Sumatra Utara. Perusahaan ini berdiri sejak 2006 dan pada awalnya cuma menjual peralatan bermain yang aman bagi anak.

Jhonny terinspirasi menawarkan waralaba gara-gara banyak kastemer yang berkonsultasi soal bisnis playland kepadanya. Jhonny menentukan menawarkan waralaba menjadi th. 2010. Saat ini Happy Play telah punya enam playland terwaralaba dan lima playland yang dikelola sendiri.

Dari tiga tipe playland yang mereka operasikan (indoor, outdoor, dan inflatable castle alias istana balon), Happy Play cuma menawarkan paket waralaba indoor. Paket outdoor tidak diwaralabakan gara-gara biasanya bukan untuk target komersial. Playland outdoor dibangun sebagai sarana di perumahan, rumah sakit, dan sekolah. Adapun inflatable castle dijual putus.

Jika berminat mengambil alih paket waralaba berasal dari Happy Play, ongkos waralaba terkait berasal dari luas dan desain. Rata-rata, ongkos pembangunan tempat bermain Rp 3 juta per meter persegi (m²). Investor harus memesan setidaknya untuk lahan seluas 100 m². Jadi sedikitnya ongkos waralaba sekitar Rp 300 juta.

Dengan menjadi terwaralaba, Anda berhak Mengenakan nama Happy Play sepanjang lima tahun. Happy Play akan memberikan standar operasi bisnis, menjaga kesegaran bisnis, memastikan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bisnis investor.

Tapi, sebelum akan terima Anda menjadi terwaralaba, Happy Play akan laksanakan survei lokasi. “Idealnya playland dibangun di pusat perbelanjaan. Tak harus mewah, yang mutlak jumlah pengunjung tinggi,” kata Jhonny.

Dari pengalaman Jhonny, bisnis lahan bermain sanggup balik modal dalam tempo sembilan bulan saja. Itu dengan asumsi, kebanyakan omzet per bulan di atas Rp 60 juta.

Soal tarif tiket, Jhonny menyerahkan sepenuhnya ke investor, cocok standar tempat masing-masing. Ada yang mematok harga tiket Rp 5.000 per jam, ada pula Rp 15.000 per jam. Namun, ada, lo, yang mematok harga Rp 100.000 untuk bermain sepuasnya.

Lollipop’s Playland & Cafe

Lollipop’s Playland & Cafe juga menawarkan waralaba playland. Meski hingga sekarang berasal dari tiga gerai yang mereka buka di Jakarta (di Senayan City, Mal Kelapa Gading, dan Gandaria City) tetap dikelola oleh pemegang master franchise Lollipop. “Peminatnya belum banyak gara-gara perlu investasi yang lumayan besar,” imbuh Tonie.

Maklum, playland ini sebenarnya waralaba impor berasal dari Selandia Baru. Di negara asalnya, Lollipop telah beroperasi sejak 1993. Di Indonesia, gerai pertama di Senayan City baru buka pada 2008.

Kalau tertarik bergabung, biaya franchise yang harus Anda keluarkan sebenarnya tidak kecil, sekitar US$ 40.000 untuk ongkos konsultasi bisnis. Selain ongkos konsultasi bisnis, Anda juga akan dikenai ongkos royalti senilai 5% berasal dari omzet per bulan, and ongkos pemasaran 3% berasal dari total omzet per bulan.

Dengan ongkos sebanyak itu, terwaralaba berhak Mengenakan nama Lollipop’s Playland & Cafe serta mendapat pelatihan bisnis dan pelatihan operasional dari master franchise. Cuma, Tonie enggan memerinci lebih jauh, dengan alasan cuma akan dijelaskan kepada orang yang telah menjadi terwaralaba mereka.

Arena bermain Lollipop sebenarnya luas, di atas 1.000 m². Bahkan, di Gandaria City, luasnya capai 1.900 m². Tapi, arena bermain yang luas menjadi keuntungan tersendiri gara-gara kekuatan tampungnya yang besar. Jumlah pengunjung Lollipop selagi ini kebanyakan 500 anak per hari. Di akhir pekan, jumlahnya melonjak dua kali lipat menjadi 1.000 anak.

Itu belum juga orangtua yang turut masuk untuk menjaga anak-anaknya. Lollipop juga sedia kan kafe yang sanggup menjadi tempat tunggu.

Khusus anak, tarif yang dikenakan di hari biasa adalah Rp 85.000 per anak dan Rp 110.000 per anak di akhir pekan. Dengan harga itu, mereka sanggup bermain sepuasnya.

Adapun orangtua yang mengidamkan menjaga anaknya di tempat bermain mereka Mengenakan tiket Rp 15.000 per orang pada hari biasa dan Rp 20.000 per orang pada akhir pekan.

Soal omzet, Tonie enggan berikan angka pasti. Tapi berasal dari hitung-hitungan pengunjung 500 orang di hari biasa, omzet Lollipop sanggup capai Rp 42,5 juta per hari. Sedangkan pada akhir pekan, omzet sanggup capai Rp 110 juta per hari. Itu belum mengkalkulasi pendapatan tiket berasal dari orangtua dan makanan atau minuman yang mereka beli.

Lantaran modal tidak kecil, balik modal di waralaba Lollipop pun tidak sanggup terjadi secepat kilat. Dalam hitungan Tonie, balik modal akan tercapai dalam 3,5 tahun.

Nah, bagaimana? Apakah Anda tetap tertarik untuk mengambil alih waralaba arena bermain anak ini? Kalau masih, silahkan coba dan semoga beruntung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *